Langsung ke konten utama

SEPOTONG ROTI




'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.'

Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit.
Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut.

"Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin.

Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri.

Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang tahunku kau membawakan sepoting roti. Kejutan yang tak pernah kusadari. Sebelum aku tahu, kau pura-pura dalam adegan drama korea romantis yang kutonton di you tobe.  Saat kau menyuruhku keluar untuk membelikan sebotol minuman. Kemudian aku kembali lagi, suasana rumah menjadi gelap karena lampu semua dimatikan. 

"Mas, mas.." 
Masih tak ada suara apapun kecuali napasku dan jantungku yang semakin berdebar. Bukankah di rumah tetangga lampu menyala sedangkan rumahku segelap ini. Atau mungkin pulsa listrik habis, mana mungkin di rumahku kan tidak memakai pulsa listrik, lantas kenapa?

"Supress.., met ultah yah dik," ucapmu dengan satu kecupan di kening melintas begitu saja. 

Suasana haru, sekaligus bahagia menyeruak di dalam dada. Seperti tubuhku melayang-layang di angkasa, berjalan di atas langit biru dengan memandangi kerlip bintang yang balik tersenyum kepadaku.
Aku mulai memotong roti yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, roti coklat broenis kesukaanku. Manis rasanya sama manisnya dengan harapanku untuk selalu bersamamu. Suapan sepotong roti darimu kunikmati, segaris senyum yang menampakkan gigi putihmu terlihat sangat jelas.

"Mas, kok cuman roti. Hadiahnya mana?"

"Adik maunya apa?"

"Em.., teddy bear yang mirip Mas ada enggak yah, haha.."

"Haha.., adik ada-ada saja. Mas serius adik maunya apa?"

"Terserah sesuai kantong Mas saja," kataku sambil menjulurkan lidah kau pun tertawa dan mencubit pipiku.

Lampu ruang tamu sekarang sudah dinyalakan. Sepotong roti yang tertinggal di atas piring ludes. Padahal terakhir kita makan hanya sepotong roti saja. Dimana satu potongan roti yang tertinggal? Kutanyakan padamu kau belum sempat memakannya, lalu siapa yang menghabiskan? Kalau bukan aku dan kamu. 

"Cittt..cittt.." suara aneh terdengar dari bawah jok kursi yang kita berdua duduki.  kutundukkan kepala untuk melihat di kolong meja dan kursi.

"Ampun, ternyata sepotong roti telah dinikmati tikus lapar di rumahku."
***
PML, SULASTRI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....