Langsung ke konten utama

Postingan

Cerpen: Antara Sahabat, Aku, dan Bakul Pempek

Gambar diambil dari Tokopedia Sudah dua hari yang lalu, Niken membuat janji, aku menunggunya dari pukul setengah lima sore di pinggir jalan. Waktu ku terbuang sia-sia. Ia tidak kunjung datang. Terpaksa aku pergi tanpa di temani siapapun. Meskipun sempat menggerutu sepanjang jalan, memasuki Toko Buku-- keluar dengan membawa buah tangan. Buku ini akan kuhadiahkan saja untuk Kakaknya.  Bagaimana nanti reaksi Niken? Setelah melihat hal ini. Sesampainya di Parkiran motor, aku tak sengaja membaca gerobak keliling: Pempek. Tak jauh dari tempatku berdiri. "Bang, berhenti!" Dengan suara menekan aku berhasil menghentikan bakul empek-empek. Aku segera melajukan motor, turun, dan berdiri di samping gerobak. "Bang, beli pempeknya."  "Mau berapa porsi, Neng?"  "Satu saja." Aku memperhatikan dibalik kaca gerobak, ada pempek isi daging, dan isi telor. Pempek itu baru saja diangkat dari penggorengan. Kemudian ada empat botol bekas sirup yang dijadikan...
Postingan terbaru

Cerpen: Pengantar Buku

Gambar diambil dari Culture triple Rian diberi tugas dari Bosnya untuk menarik buku LKS ke SMP Negeri 5 Purwokerto. Pakaian yang dikenakan Rian, baju batik, celana bahan berwarna hitam. Membuatnya tampak rapi seperti guru-guru yang ada di tempat itu. Dengan tas selempang cokelat yang biasa digunakan penagih utang. Tas itu berguna sekali untuk menaruh ponselnya, Nota dan dompet. Dia kadang pelupa. Setiapkali berjalan di koridor sekolah, semua guru menyapanya. Ini kali kedua Rian datang kemari. Yang pertama datang bersama bosnya dengan menaiki mobil. Berjalan menuju ke ruang Koperasi, tumpukan buku LKS terjejer di sudut dinding.  "Ada yang bisa saya bantu, Pak." Bu Muji selaku pekerja di Koperasi sekolah melayani kedatangan Rian dengan ramah. "Sisa buku yang belum terjual, apa sudah berada di sini semua, Bu?" "Ya, Pak. Kalau perlu itu semua bisa dicek ulang sesuai nota." Satu per satu buku LKS dihitung jumlah sisa buku yang masih terjejer di temp...

Bukan Dia, Tapi Bukan Aku

Terkadang cinta memberi pilihan padamu, apakah harus bertahan atau mempertahankan? jika cinta telah membuatmu merasa jenuh dengan sikapnya, sebisa mungkin kau mengatakan kesungguhan yang sebenar-benarnya. Jika tidak kau sendiri yang akan jatuh ke dalam. Seperti Nia yang masih menjalin hubungan jarak jauh atau bahasa gaulnya LDR. selalu ada keterbukaan, sedangkan pasangannya masih meragukan kesetiaan gadis itu. "Aku benci dia yang terlalu egois," ungkap Nia "Lalu," tanya sahabatnya "Tapi, aku juga sulit untuk meninggalkan. kau punya cara agar dia tidak seperti itu." Sahabatnya hanya diam, menatap Nia dengan penuh simpatik. Nia butuh teman, teman yang mau mendengarkan keluhannya. Yang mau mendengar ocehan cerewatnya yang kadang-kadang membosankan. Tapi, tidak bagi sahabatnya. Mereka berdua duduk di sebuah ayunan. Sesekali sahabatnya mendorong ayunan itu, sehingga bergerak maju-mundur. Nia menyunggingkan bibirnya, sehingga deretan gigi putihnya k...

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....

🍁Hambatan Pernikahan

Pernikahan hal yang paling diinginkan dalam suatu hubungan. Terlebih oleh wanita. Dengan begitu ia yakin, akan keseriusan pasangannya.  Namun, demikian bagi Sakinah. Keputusan Bang Seto begitu mengejutkan. Tentang apa?  "Jika bukan minggu depan, akad nikah esok pun jadi." "Kamu yakin, Bang. Ini tidak terlalu cepat." Sakinah tahu, Bang Seto telah mengambil keputusan yang tepat. Pernikahan ini harus sesuai rencana awal. Pikirannya menerawang ke mana-mana.  Saat panggilan telepon Bang Seto terputus. Entah, mengapa semua ini harus terjadi? Gadis manis dengan gincu tipis, tak dapat membendung air matanya. Nyaris meluncur deras. Bola matanya memerah.    Sebuah pesan masuk, dari Sang Lebe.  "Nanti besok dipersiapkan, ketemu saya di Kantor dengan calon suami, wali nikah dan dua orang saksi." Menyadarkan Sakinah akan hambatan pernikahannya dengan Bang Seto. Betul, sekian lama ia menunggu. Hari H. Sudah tiga bulan yang lalu menyiapkan segalanya. Tapi, ada saja masal...

Cerita Seram, Kuntilanak Bonceng Tukang Sayur

Semilir angin sore kian ribut, menambah suasana sejuk di lahan perkebunan karet di Bukit Senyum, Gunung Butak. Pohon-pohon yang tinggi tengah bergoyang menjadikan daun-daun berguguran. Serta di ujung barat, lahan yang seluas 1.000 meter persegi ditumbuhi ilalang pun semak belukar yang tampak kehijauan. Keindahan alam yang masih terlihat alami dari ciptaan Tuhan.  Banyak aktivitas warga yang menampung hasil getah karet di lahan perkebunan.  Dengan penampung yang sudah terikat kuat ke batang pohon. Dari mulai cara mengeruk batang karet dengan pisau tajam, kulit batangnya  mengelupas. Lalu, keluar getah yang bercucuran dan memindahkan getah tersebut ke drum terbesar. Meskipun warga mengambil getahnya dalam waktu berbulan-bulan, akan tetapi getahnya tak pernah mengering. Justru getah tersebut akan semakin mengental. Getah karet nantinya akan dikumpulkan dan bisa dijual mahal. Sebelum petang aktivitas warga usai, seluruh warga akan kembali pulang ke rumah masing-masing.  ...

SUKETI IS THE BEST BAB.6 Rahasiaku

'Terkadang kenyataan membuat kita terpuruk, duri pada mawar tak selamanya tajam.' Sepulang sekolah Aku dan Mila mengunjungi perpustakaan umum dekat alun-alun kota. Sebelah utara perpustakaan terdapat sebuah gedung untuk tempat latihan bulu tangkis tapi sayang aku belum pernah masuk ke situ. Motor Mila dipakirkan di depan perpustakaan lalu kami masuk ke dalam. Aku mengisi lembaran kertas pengunjung yang diletakkan di atas meja dekat pintu. Kemudian melangkah ke sudut ruangan di rak paling belakang, yang terdapat kumpulan buku fiksi berjejeran di rak masing-masing. "Mil, kamu mau sekalian pinjam tidak? nanti aku ambilkan novel menarik." "Enggak usah Ti, lagi malas baca. Lagian niat ke sini cuma nganterin kamu aja." "Oh.." Kulirik Mila yang tengah duduk mengamati setiap pengunjung. Mila pasti baru pertama kali ke sini, lihat saja kepalanya sedari tadi celingukan ke seluruh ruangan seperti heran dengan perpustakaan di sini. Kini aku ke...