Langsung ke konten utama

Cerpen: Pengantar Buku

Gambar diambil dari Culture triple

Rian diberi tugas dari Bosnya untuk menarik buku LKS ke SMP Negeri 5 Purwokerto. Pakaian yang dikenakan Rian, baju batik, celana bahan berwarna hitam. Membuatnya tampak rapi seperti guru-guru yang ada di tempat itu.

Dengan tas selempang cokelat yang biasa digunakan penagih utang. Tas itu berguna sekali untuk menaruh ponselnya, Nota dan dompet. Dia kadang pelupa.

Setiapkali berjalan di koridor sekolah, semua guru menyapanya. Ini kali kedua Rian datang kemari. Yang pertama datang bersama bosnya dengan menaiki mobil.

Berjalan menuju ke ruang Koperasi, tumpukan buku LKS terjejer di sudut dinding. 

"Ada yang bisa saya bantu, Pak."

Bu Muji selaku pekerja di Koperasi sekolah melayani kedatangan Rian dengan ramah.

"Sisa buku yang belum terjual, apa sudah berada di sini semua, Bu?"

"Ya, Pak. Kalau perlu itu semua bisa dicek ulang sesuai nota."

Satu per satu buku LKS dihitung jumlah sisa buku yang masih terjejer di tempatnya. Setiap tumpukan dengan jumlah seratus akan diikat dengan tali rafia. Agar lebih mudah hitungannya. Rian begitu teliti dalam bekerja. 

Sementara jarum jam terus berjalan, cepat sekali tiba-tiba suara azan zhuhur bergema di Masjid terdekat. Rian menghentikan aktivitas pekerjaan itu. Menunaikan salat zhuhur dan makan siang di kantin.

Usai makan dia kembali bergumul dalam pekerjaannya lagi. Tujuh ratus tumpukan buku dia hitung sendiri. Lelah, selesai dipukul setengah empat sore. 

Sekembalinya di rumah, Rian mengirim pesan untuk mengabarkan kepada bosnya. Pekerjaan yang dia lakukan mendapatkan hasil berupa uang seratus ribu dalam sehari. Terhitung dari upahnya tujuh puluh lima ribu, biaya bensin dan makan. 
 
Hasil yang dia peroleh diberikan kepada istrinya, dibelanjakan untuk beli popok, beli lauk nanti malam. 

Sebulan terlewati pekerjaan Rian hari ini akan menarik buku di Sekolah Negeri 6 Banyumas. Motor matic yang ingin dia gunakan ternyata dipakai untuk mengantarkan ayahnya. Terpaksa dia harus menggunakan motornya sendiri. Motor butut keluaran tahun 2004, lampu depannya mati karena setruman akinya pun tidak menyala. 

Rian mengenakan pakaian biasa, celana Levis biru dan baju yang dirangkap switer hitam.

Sesampainya di sekolah, Rian dihentikan oleh scurity.

"Maaf, Bapak ini siapa? Ke sini ada kepentingan apa?" Sikap securty yang bulan lalu semula ramah dan hormat, kini berubah lebih sangar dengan tatapan merendahkan.

"Loh, bapak kan pernah bertemu saya. Saya petugas yang mengantarkan buku LKS." Awal ke sini Rian bersama bosnya menaiki mobil, dan menggunakan baju batik seperti seorang guru.

Rupanya perubahan penampilan yang semula rapi menjadi biasa. Akibatnya, akan diremehkan sebelah mata oleh orang lain yang Rian temui di sekolah ini. 

Setelah Rian menjelaskan siapa dirinya. Scurity itu mempersilahkan masuk. Rian berjalan di koridor sekolah menuju ruang koperasi. Tatapan guru-guru kepadanya sangat tajam dan menyeledik.

Rian dihentikan oleh kepala sekolah, "Anda siapa? Ada perlu apa datang kemari?"

"Saya Rian, Pak. Pengantar buku LKS, saya kemari ingin menarik sisa buku bulan kemarin."

"Oh, jadi, petugas dari Pak Widodo."

"Benar, Pak." Rian tersenyum.

Rian pun diantarkan ke ruangan yang dituju. Kepala sekolah memerintahkan guru lain untuk mengumpulkan sisa buku yang akan dicek ulang oleh Rian. 

Tidak ada lagi tatapan menghujani pertanyaan kepada Rian. Kembali normal, lebih disegani kedatangannya. Meskipun harus menjelaskan berulangkali tujuannya datang kemari. Jika tidak semua guru akan menatap asing. Bagi Rian itu membuatnya merasa tidak nyaman.

***

Pemalang, 10 November 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....