Langsung ke konten utama

Cerpen: Antara Sahabat, Aku, dan Bakul Pempek

Gambar diambil dari Tokopedia

Sudah dua hari yang lalu, Niken membuat janji, aku menunggunya dari pukul setengah lima sore di pinggir jalan. Waktu ku terbuang sia-sia. Ia tidak kunjung datang. Terpaksa aku pergi tanpa di temani siapapun.


Meskipun sempat menggerutu sepanjang jalan, memasuki Toko Buku-- keluar dengan membawa buah tangan. Buku ini akan kuhadiahkan saja untuk Kakaknya.  Bagaimana nanti reaksi Niken? Setelah melihat hal ini.


Sesampainya di Parkiran motor, aku tak sengaja membaca gerobak keliling: Pempek. Tak jauh dari tempatku berdiri.


"Bang, berhenti!" Dengan suara menekan aku berhasil menghentikan bakul empek-empek.


Aku segera melajukan motor, turun, dan berdiri di samping gerobak.


"Bang, beli pempeknya." 


"Mau berapa porsi, Neng?" 


"Satu saja."


Aku memperhatikan dibalik kaca gerobak, ada pempek isi daging, dan isi telor. Pempek itu baru saja diangkat dari penggorengan. Kemudian ada empat botol bekas sirup yang dijadikan tempat isi kuah pempek. Diletakkan paling pinggir di sebelah panci, kompor gas.


Bakul pempek tengah merajang mentimun-- hingga menjadi potongan yang tipis-tipis. Memotong pempek menjadi empat bagian.


Lalu, bertanya lagi kepadaku, "Mau dibungkus atau mau dimakan di sini, Neng."


"Em, terserah." Jawabku singkat.


Bakul pempek tertawa mendengar jawabanku. Aku tak merisaukannya, lebih fokus membalas pesan Niken. "Aku sudah ke toko buku. Sekarang, aku lagi pesan pempek. Kamu mau, Ken?"


Aku menawari Niken empek-empek, namun tak ada balasan.


Seseorang membuatku terperanjat, "Neng ini, mau makan sambil berdiri? Mendingan duduk sini."


Si bakul pempek menyodorkan piring, memberikan bangku plastik untuk kududuki. Ternyata aku belum sempat bilang mau makan di rumah, minta dibungkus. Terlambat. Akhirnya, kunikmati saja.


Pada suapan pertama, rasanya betul-betul menggoda lidah. Padahal pempek isi telor, kulit tepung empek-empek seperti ada daging ikannya. Kenyal sekali. Kuahnya lumayan pedas, ada sedikit rasa manis, asam cuka. Rasanya nikmat sekali. Ah, aku ingin segera melahap semuanya. Sayang, harus menjaga image. Ini bukan sedang di rumah. Banyak pejalan kaki yang lewat.


Aku bertanya, "Bang, orang mana sih?"


"Palembang."


"Jauh ya, Bang. Sejak kapan jualan di sini?"


"Gimana rasanya, Neng?" Abang ini bukannya menjawab pertanyaanku, ia balik bertanya.


Seperti tahu aku hendak memuji dagangannya, "Enak, Bang." Begitu menjawab abang Pempek tersenyum puas. 


"Kalau enak tiap hari beli ya, Neng."


Aku tertawa, "Boleh, kalau Abang kasih gratisan, ya. Pasti Neng sering datang kemari." Candaku membuat si Abang lekas menjawab.


"Neng, ada nomor yang bisa dihubungi."


Aku mendelik. Baru kali ini ada pedagang keliling berani meminta nomor ponselku. Mau buat apa? Jangan-jangan. 


"Kalau ada nomor, Neng. Kan, Neng tinggal bilang mau empek-empek. Nanti, Abang anterin ke rumah."


Waduh, berat. Ternyata candaku dikata serius. 


Aku tersenyum. Lekas membayar. 


"Nomornya, Neng. Mana?" 


"Eh, anu, Bang. Nggak usah repot-repot. Saya tadi cuma bercanda."


"Abang maunya serius loh, Neng. Ini, buat yang  di rumah."


Mau tidak mau, aku mengambil bungkusan itu. Pamit, pulang sama si Abang Pempek. Langkahku seakan dipercepat. Melihat si Abang terus memperhatikanku dari sana. Aku malu sama orang-orang, mereka akan mengira aku pacar si Abang Pempek.


Setibanya di depan gerbang rumah Niken, aku turun dari jok motor. Niken keluar menyambut kedatanganku.


"Maaf, Rin. Aku nggak bisa nganterin kamu karena ada urusan mendadak."


"Kamu memang selalu menomorduakan aku, Ken. Urusan lain memang lebih penting ketimbang pergi bersamaku, begitu 'kan!"


Niken mengacak rambutku. "Ih, bukan begitu sih, Rin. Udah ah, marahnya."


Aku menjelajahi rumah Niken, mencari kakaknya. Niken menarikku untuk duduk di sofa. Aku memberikan bungkusan plastik berisi empek-empek.


"Duh, sahabatku. Makasih yah," Niken membukanya, lalu, "Rin, ini nomor ponsel siapa?"


Aku terperangah melihat kertas coretan nomor ponsel itu. "Buang saja, itu nomor si Abang pempek."


"Cie-cie, Rin. Jangan-jangan Abangnya naksir lagi sama kamu. Apa ini cuma dikasih doang?"


Aku mengangguk. Niken semakin menggodaku.


"Kalau gitu biar aku yang simpan nomor abangnya."


"Mau buat apa, Ken? Jangan macem-macem!"


Aku melihat sahabatku menyimpan nomor itu sambil tersenyum. Kemudian, tengah mengetik pesan. Entah, pesan apa itu? Aku juga penasaran. 


Niken mulai mengambil bungkus empek-empek. Saat mengunyah suapan pertama empek-empek. Niken dengan antusias berkata, "Sumpah, Rin. Ini empek-empek rasanya. Beh, nikmat banget nih. Kalau perlu, aku pesan tiap hari sama abangnya. Mumpung ada nomornya."


Sepertinya aku ikut terpengaruh. Bener juga kata Niken. Akhirnya, aku pun mau menyimpan nomor abangnya. 


"Katanya nggak penting, uhuukk. Sekarang, mau disimpen. Suka sama empek-empeknya, atau sama Abangnya, Rin."


Aku cuma bisa tertawa renyah.


Selepas salat isya, tiba-tiba ada yang mengetuk rumahku. Sebelum membuka pintu. Aku mengintip dulu dari celah jendela. "Astaufirallahalazim," ucapku lirih. Aku tidak menyangka si Abang pempek sudah berdiri di sana. 


Aku segera membalas salamnya, "Walaikumsalam, Abang kok tahu alamat Rina."


"Maaf, Neng. Abang mengganggu Neng malam-malam. Kata sahabat, Neng Rina. Neng, mau makan empek-empek sekarang. Jadi, Abang langsung bawain. Inih, dimakan." Mata kami bertemu, aku segera membuang muka.


Aku cuma bisa menggigit bibir, menahan marah pun malu karena mengenakan piyama di depan Abang pempek. Semua terjadi karena ulah Sahabatku. 

***


Pemalang, 19 Nopember 2022















Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....