Langsung ke konten utama

Cerita Seram, Kuntilanak Bonceng Tukang Sayur

Semilir angin sore kian ribut, menambah suasana sejuk di lahan perkebunan karet di Bukit Senyum, Gunung Butak. Pohon-pohon yang tinggi tengah bergoyang menjadikan daun-daun berguguran. Serta di ujung barat, lahan yang seluas 1.000 meter persegi ditumbuhi ilalang pun semak belukar yang tampak kehijauan. Keindahan alam yang masih terlihat alami dari ciptaan Tuhan. 


Banyak aktivitas warga yang menampung hasil getah karet di lahan perkebunan.  Dengan penampung yang sudah terikat kuat ke batang pohon. Dari mulai cara mengeruk batang karet dengan pisau tajam, kulit batangnya  mengelupas. Lalu, keluar getah yang bercucuran dan memindahkan getah tersebut ke drum terbesar. Meskipun warga mengambil getahnya dalam waktu berbulan-bulan, akan tetapi getahnya tak pernah mengering. Justru getah tersebut akan semakin mengental. Getah karet nantinya akan dikumpulkan dan bisa dijual mahal. Sebelum petang aktivitas warga usai, seluruh warga akan kembali pulang ke rumah masing-masing. 

Sementara itu Tukang sayur masih  juga berkeliling, dengan mengendarai sepeda motor dan melintas di lahan perkebunan. Ketika warga usai kembali sedang hari pun akan beranjak petang. Ia sendiri terlambat pulang. Padahal rumahnya juga berada di atas bukit senyum. Angin masih terus menerpa, barang dagangannya masih juga tersisa. 

Kemudian ia melintas di tikungan tajam. Lalu, akan melesat naik ke atas.  Tiba-tiba laju motornya terasa semakin berat. Seakan ada beban yang sengaja ditambah. Namun, entah. Suara tawa perempuan asing yang mengerikan terdengar jauh di telinganya. Membuat bulu kuduknya meremang. Suasananya tidak seperti biasanya. Rasa takutnya diredam olehnya, ia mencoba tenang. 

Dari spion kanannya nampak Perempuan berambut panjang bergaun putih butak, duduk di belakang boncengan. Menduduki kayu untuk penyangga keranjang sayuran. Cepat-cepat ia menghentikan laju motornya. Spontan ia menginjak pedal rem kaki, bersamaan dengan menarik rem tangan.  

Cittttt....!!! 

Suara decitan roda motornya bergoyang dahsyat, ia hampir tersungkur. Untung saja kedua kakinya bergerak cepat menyangga beban motornya. Ia menengok ke belakang dan.., dan ternyata tak ada seorang pun selain dirinya. Kemana sosok perempuan tadi?  Lagi-lagi tawa hantu perempuan itu terdengar kembali. Meskipun jauh tetap membahana di telinganya. Kicauan burung menimpali suaranya. Lalu, hilang terseret angin. 

Rasa takutnya semakin bertambah ketika pohon karet di lahan tersebut tiba-tiba terbakar. Ia kembali menaiki motornya, menarik gas sekuat tenaga. Penuh dengan keyakinan tinggi. Namun, naas saat gas tertarik oleh telapak tangannya. Roda motornya tak sesuai pergerakan tangan. Ia tergelincir ke pinggiran, jatuh ke bawah tebing. Motornya tersangkut di pohon yang rindang. Tubuhnya terpental dan berhenti di pinggir jalan tepat di tepi tebing. Meskipun ia merasa napasnya masih terasa berat. Namun, tubuhnya seakan susah digerakkan. Lalu, pandangannya kabur lama-lama semakin gelap. Ia sudah tidak merasakan apa-apa dan tidak sadarkan diri di tempat yang sepi. Lebih tepatnya tubuhnya tergeletak di perlintasan jalan Bukit Senyum Gunung Butak. 
***

Pemalang, 6 Januari 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....