Langsung ke konten utama

SUKETI IS THE BEST BAB.6 Rahasiaku



'Terkadang kenyataan membuat kita terpuruk, duri pada mawar tak selamanya tajam.'

Sepulang sekolah Aku dan Mila mengunjungi perpustakaan umum dekat alun-alun kota. Sebelah utara perpustakaan terdapat sebuah gedung untuk tempat latihan bulu tangkis tapi sayang aku belum pernah masuk ke situ. Motor Mila dipakirkan di depan perpustakaan lalu kami masuk ke dalam. Aku mengisi lembaran kertas pengunjung yang diletakkan di atas meja dekat pintu. Kemudian melangkah ke sudut ruangan di rak paling belakang, yang terdapat kumpulan buku fiksi berjejeran di rak masing-masing.

"Mil, kamu mau sekalian pinjam tidak? nanti aku ambilkan novel menarik."

"Enggak usah Ti, lagi malas baca. Lagian niat ke sini cuma nganterin kamu aja."

"Oh.."

Kulirik Mila yang tengah duduk mengamati setiap pengunjung. Mila pasti baru pertama kali ke sini, lihat saja kepalanya sedari tadi celingukan ke seluruh ruangan seperti heran dengan perpustakaan di sini.

Kini aku kembali menatap deretan buku yang tertata rapi pada tempatnya. Setiap rak tertera sebuah tulisan. Misal di sana tertulis 'FIKSI', berarti itu khusus buku kumpulan fiksi. Jika tertulis 'AGAMA' tentu semuanya hanya terdapat buku tentang agama. Itu semua bertujuan agar mudah bagi para pengunjung saat mencari buku yang akan dibacanya.

Sebuah novel berjudul 'Mimi Elektrik' menarik perhatianku, sampul depan buku terdapat perempuan berpakaian seragam memakai kacamata dengan membawa setumpuk buku dan penulisnya bernama Zahra Zehra lalu kuambil untuk kupinjam.
Mila mengantarkanku pulang, di perjalanan dia mengajakku main ke rumahnya. Aku mengiyakan tapi dengan syarat aku pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian.
**

Rumah tembok berwarna putih, pinggiran jendela berwarna merah darah pekat itu adalah rumah Mila. Dalam bayanganku Rumah Mila sangat besar sebab dari penampilannya dia anak orang kaya. Teryata dugaanku salah, rumah ini sederhana. Dia di sini tinggal dengan Tante, Om Mila. Awalnya aku ingin bertanya padanya, kenapa dia tidak tinggal saja di bandung bersama orang tuanya? Niat itu kuurungkan karena aku baru mengenal Mila beberapa bulan. Takut pertanyaan itu menyinggung perasaan.

Eca teman sekelasku datang memakai sepada mini lalu berkumpul bersama kami. dia kalau memakai baju biasa selain seragam sekolah terlihat seksi. tubuhnya saja melar juga semok berisi sudah gitu berpakaian ketat makin terlihat sangat seksi. jika aku jadi laki-laki mungkin aku akan senang memandangi tubuhnya itu, tapi tidak sebagai perempuan aku malah terlihat risih berada di dekatnya.

"Ti, rambutmu digerai saja kan cantik," kata Mila kepadaku.

Aku menolak tapi dia mulai mengacak-ngacak rambutku dengan sisir yang sudah dia pegang. Akhirnya aku mengalah, kubiarkan Mila menyisir rambutku, mencatotnya sampai lurus. kulihat wajahku depan cermin terlihat sangat cantik. Eca sedari tadi menatapku menurutku dia mengagumi wajahku. Aku tersenyum puas.

"Mil, Eti cantik yah tapi sayang dia enggak bisa dandan," celutuk Eca sirik.

"Hemm, Eti sisa rambutmu masih banyak kalau lagi diiket. Kau tahu Ti, kata orang biasanya banyak yang suka," ucap Mila serius.

Mendengar itu aku tersipu malu, "masa sih Mil," jawabku tak percaya.

Deru motor terdengar merdu di telinga tiga remaja putra berboncengan dalam satu motor. Dan berhenti di depan rumah Mila. Kami keluar untuk melihat siapa yang datang? Ternyata mereka Deva, Yogi dan Sapto. Mereka semua teman satu kelas kami. aku tak suka mereka datang rasanya ingin pulang dan sembunyi di balik tembok karena dia suka sekali menertawakan namaku.

Pertama kali dia melihat aku berada di sini pun dia sudah tertawa
dan bilang, "eh, ada Suketi." setelah itu tertawa berbarengan.
Sungguh menyebalkan.

"Aku mau pulang Mil."

"Loh, kenapa Ti? tapi motorku dipakai tante-ku terus gimana nganternya?"

"Ya sudah aku pulang jalan kaki saja," jawabku dengan nada ketus.

"Aku yang antar kamu pulang," sambut Deva menimpal.

"Enggak usah, makasih."

Mereka semua tahu aku marah. Deva hanya alasan saja untuk mengantar padahal dalam hatinya, aku yakin dia menolak.

"Tapi rumahmu jauh, Ti," Mila pun merangkulku membujukku agar aku bersedia diantarkan Deva. kalau sudah begini aku hanya pasrah lalu menurutinya saja.
**

Baru pertama kali aku diboncengkan seorang laki-laki. Sepanjang jalan Deva hanya diam, sekali bicara hanya ucapan maaf yang keluar dari mulutnya. Perasaan marah mulai reda ketika angin menyapa rambutku yang terurai sepanjang dada.

Motor berhenti di depan rumahku, "Ti, sebenarnya aku tak ingin ikut menertawakanmu. Tapi sungguh namamu sangat lucu. Ibumu dulu ngidam apa sewaktu melahirkanmu kok dikasih nama Suketi."

"Aku kira kau tak akan mengejek namaku lagi, tapi.."

"Maaf, just kidding gitu aja sewot. Nanti cantiknya hilang tahu," timpal Deva menghentikan ucapanku yang belum selesai.

Dia benar-benar menyebalkan, aku menutup telinga dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Deva sendirian. Pintu rumahku kututup dengan cepat sampai mengeluarkan bunyi keras. Kenapa dari dulu selalu seperti ini? Harusnya namaku bukan Suketi. Aku benci nama Suketi.

Dadaku sesak menahan marah, mataku mulai redup seperti langit yang akan hujan. Untuk pertama kalinya aku terdesak untuk menanyakan kepada ibu, kenapa ibu memberi nama suketi untukku? Sedangkan kakakku saja namanya sangat menarik 'Dewi Alang Mekar Sari'.
Sungguh ibuku tidak adil padaku.

"Ibu..Ibu," teriakku menuju dapur.

Kulihat ibu sedang merebus air dengan tungku yang dibuat sendiri dengan kedua batu bata yang berjejer dua dalam jarak sepuluh senti. Yang menyalakan apinya dengan plastik bukan memakai kayu sebab ibu tak mampu membeli.

"Ibu di belakang Ti," seru Ibu dari arah belakang.

"Bu, Eti benci sama Ibu. Kenapa sih namaku jelek sekali bu? Ibu enggak adil, nama kakak saja bagus, kenapa aku tidak bu? Gara-gara namaku jelek aku sering diejek," cerocosku dengan suara menggertak.

"Namamu bagus Ti, suatu saat kau akan mengerti dengan rahasia namamu itu," jawab ibu menasehati.

"Aku ingin tahu sekarang Bu, bukan nanti. Alasannya apa ibu memberi nama Suketi padaku."

Ibu merundukkan kepala menyembunyikan kesedihan dimatanya. Aku masih menunggu jawaban dari ibu. Tapi tak ada suara apapun yang kudengar. Hanya suara air yang akan mendidih, terdengar nging-nging ditelinga. Hembusan napasku yang tak kalah dengan suara detak jantungku yang semakin berat. Mengalahkan keheningan diantara ibu dan anak. Kami tenggelam dalam kebisuan panjang.

"Ti, itu adalah nama pemberian bapakmu. Bapakmu sangat sayang padamu Ti. Dia memberi nama Suketi karena teringat adik kesayangannya yang sudah meninggal. Keluarga bapakmu semuanya diawali dengan huruf Su-. Bapakmu bernama Sutarno, Padhe kamu Suratmo, kedua Bulekmu Surati dan yang paling bontot itu almarhum Suketi," hening sesaat.

Air mataku pun tumpah sebab tak mampu lagi kubendung.
Kemudian ibu mulai bercerita lagi, "Keluarga Bapakmu di sana itu punya marga Su- jaman dulu tertulis dengan Soe-, nama itu menjadi penyemangat. Seperti presiden pertama indonesia yang bernama Soekarno tapi kalau sekarang pasti ditulis Sukarno. Soekarno itu punya semangat yang tinggi. Ibu berharap kamu juga punya semangat hidup yang tinggi Ti."

Mendengar ibu bercerita tentang rahasia namaku. Aku sangat terharu. Kenyataan tentang namaku yang tak terelakkan, Suketi tetaplah Suketi. Perempuan sederhana yang tak pernah patah semangat. Hingga duri yang tajam sekalipun bisa dipatahkan ketika akan masuk menembus kulitnya.
***
#PML_SULASTRI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....