Langsung ke konten utama

SUKETI IS THE BEST Bab.2 Pemulung



Menginjak kelas dua SMP, Suketi duduk sebangku dengan Suyati. Dia sudah seperti sahabat, diibaratkan seperti ekor Suketi. Kemana-man selalu berdua, kalau ada Suketi disitu pasti ada Suyati. Suyati gadis remaja yang cerewet, bawel tapi baik hati dan suka berbagi. Walaupun soal pelajaran Dia tak sepandai seperti Suketi. Kalau soal berhitung, dia jagonya.

Suketi yang suka membaca novel dan cerpen, Suyati malah suka baca komik.
Persahabatan mereka itu unik. Yang satu pendiam, satunya lagi cerewet. Dan membuat mereka saling mengisi satu sama lain.
***

"Suyati."

Suketi melongo melihat BP3nya tertulis nama Suyati sahabatnya. 'Kenapa bisa seperti ini? Masa sampai bisa tertukar BP3 Suyati denganku,' protes Suketi dalam hati. Suketi tertawa lepas, sendiri di dalam kamarnya. Ia membayangkan sahabatnya pasti ikut tertawa kalau tahu BP3nya tertukar dengannya.

"Eti," pangil Ibu dari depan pintu kamar Suketi. Suketi pun keluar.

"Ada apa, Bu?" jawab Suketi malas.

"Itu ada Ayan, mencarimu," kata Ibu.

Kemudian berlalu pergi ke dapur. Suketi bingung, tidak biasanya Ayan mampir kerumah. Ia menemui Ayan. Suketi melangkah ke pintu depan dekat ruang tamu. Keduanya kini saling bertatap muka. Suketi ingin menanyakan maksut kedatangan Ayan ke rumahnya.

"Eti, Aku mau pinjam PR bahasa Indonesia boleh enggak," dengan wajah memelas.
Mendengar itu Suketi geleng kepala. Dia kira bakal dapat makanan, atau bingkisan darinya. Lah, ini datang malah mau pinjam tugas sekolah.

"Maaf yan, Aku kali ini tak mau meminjamkan tugasku untukmu. Itu kan tugas mengarang, masa nyontek. Nanti sama rah," bahasa khas Pemalang Suketi keluar. Ucapan dibelakangnya ada kata -rah sudah menjadi kebiasaan bicaranya yang kampungan tapi berkarakter. Asli Pemalang bukan campuran kaya kluban.

"Oke, kalau gitu. Aku bakal bilang keteman-teman Ibumu kerja cari sampah!" Seru Ayan. Lalu pergi dengan kesal.

"Terserah!" kata Suketi setengah berteriak.

Mendengar perkataan Ayan barusan, Suketi pun memendam amarah. Ia tidak bisa membayangkan hari esok kebahagiannya pudar seketika. Apa kata teman-temannya? Jika tahu Suketi anak pencari sampah alias anak pemulung. Ia cuma bisa pasrah sama gusti Allah. Berharap apa yang ia pikirkan tidak akan terjadi. Karena Suketi hanya ingin kebahagiaan dalam kehidupannya abadi bukan semu semata.
***
PML, 14-03-2016

Ket:
Kluban, Makanan khas Pemalang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....