Menginjak kelas dua SMP, Suketi duduk sebangku dengan Suyati. Dia sudah seperti sahabat, diibaratkan seperti ekor Suketi. Kemana-man selalu berdua, kalau ada Suketi disitu pasti ada Suyati. Suyati gadis remaja yang cerewet, bawel tapi baik hati dan suka berbagi. Walaupun soal pelajaran Dia tak sepandai seperti Suketi. Kalau soal berhitung, dia jagonya.
Suketi yang
suka membaca novel dan cerpen, Suyati malah suka baca komik.
Persahabatan mereka itu unik. Yang satu pendiam, satunya lagi cerewet. Dan membuat mereka saling mengisi satu sama lain.
***
Persahabatan mereka itu unik. Yang satu pendiam, satunya lagi cerewet. Dan membuat mereka saling mengisi satu sama lain.
***
"Suyati."
Suketi
melongo melihat BP3nya tertulis nama Suyati sahabatnya. 'Kenapa bisa seperti
ini? Masa sampai bisa tertukar BP3 Suyati denganku,' protes Suketi dalam hati.
Suketi tertawa lepas, sendiri di dalam kamarnya. Ia membayangkan sahabatnya
pasti ikut tertawa kalau tahu BP3nya tertukar dengannya.
"Eti,"
pangil Ibu dari depan pintu kamar Suketi. Suketi pun keluar.
"Ada
apa, Bu?" jawab Suketi malas.
"Itu
ada Ayan, mencarimu," kata Ibu.
Kemudian
berlalu pergi ke dapur. Suketi bingung, tidak biasanya Ayan mampir kerumah. Ia
menemui Ayan. Suketi melangkah ke pintu depan dekat ruang tamu. Keduanya kini
saling bertatap muka. Suketi ingin menanyakan maksut kedatangan Ayan ke
rumahnya.
"Eti,
Aku mau pinjam PR bahasa Indonesia boleh enggak," dengan wajah memelas.
Mendengar itu Suketi geleng kepala. Dia kira bakal dapat makanan, atau bingkisan darinya. Lah, ini datang malah mau pinjam tugas sekolah.
Mendengar itu Suketi geleng kepala. Dia kira bakal dapat makanan, atau bingkisan darinya. Lah, ini datang malah mau pinjam tugas sekolah.
"Maaf
yan, Aku kali ini tak mau meminjamkan tugasku untukmu. Itu kan tugas mengarang,
masa nyontek. Nanti sama rah," bahasa khas Pemalang Suketi keluar. Ucapan
dibelakangnya ada kata -rah sudah menjadi kebiasaan bicaranya yang kampungan
tapi berkarakter. Asli Pemalang bukan campuran kaya kluban.
"Oke,
kalau gitu. Aku bakal bilang keteman-teman Ibumu kerja cari sampah!" Seru
Ayan. Lalu pergi dengan kesal.
"Terserah!"
kata Suketi setengah berteriak.
Mendengar
perkataan Ayan barusan, Suketi pun memendam amarah. Ia tidak bisa membayangkan
hari esok kebahagiannya pudar seketika. Apa kata teman-temannya? Jika tahu
Suketi anak pencari sampah alias anak pemulung. Ia cuma bisa pasrah sama gusti
Allah. Berharap apa yang ia pikirkan tidak akan terjadi. Karena Suketi hanya
ingin kebahagiaan dalam kehidupannya abadi bukan semu semata.
***
PML, 14-03-2016
Ket:
Kluban, Makanan khas Pemalang.
Kluban, Makanan khas Pemalang.
Komentar
Posting Komentar