Lapangan basket di Sekolah SMA Pangantun Luhur ini sangat luas aku bisa bebas berlari mengelilingi lapangan saat pemanasan. Masa orientasi berjalan lancar, walau aku kesal rambutku terlihat aneh dikucir dua dengan pita berwarna merah-putih. Padahal aku lebih suka dikucir satu saja itu pasti sangat cocok diwajahku yang tirus ini.
Di sebelah kiri sekolahku ada sebuah gereja,
namanya Gereja Luxas. Sekolah ini memang pemiliknya non muslim semua gurunya
pun non muslim. Bisa dibilang ini sekolah khusus untuk orang non muslim. Itu
tak penting bagiku, sebab bisa sekolah pun aku sangat bersyukur. Menurutku jika
aku bisa lulus SMA tentu mencari pekerjaan akan sangat mudah.
"Hay..., kamu ngapain di situ ayo cepat masuk!" kata pria yang berdiri di depan kelas.
Pria itu memakai kemeja kotak-kotak, hidungnya mancung, tubuhnya gendut tapi berotot, dan punya tahi lalat disebelah kanan hidungnya. Menurutku pria itu sangat tampan tapi sayang wajahnya terlihat sangat galak.
Sekarang aku sudah duduk dibangku paling depan bersama teman yang baru kukenal. Aku sebangku dengan Mila, dia keturunan cina. Bisa kulihat dari mata sipitnya aku yakin dia orang caenis. Tapi dia sangat ramah ketika menyilahkan aku duduk di sampingnya.
Ternyata pria yang kulihat tadi adalah guru fisika, kalau gurunya ganteng kayak gini aku pasti semangat belajar. Aku senyum-senyum sendirian menatap guru yang kuidolakan di depanku seketika itu suara gebrakan meja mengagetkanku.
"Brakk.., mana bukumu! Kenapa dari tadi belum dikeluarkan?" bentak Pak Guru.
Aku benar-benar malu ternyata dari tadi aku hanya melamun sendiri. Di atas mejaku tak ada satu buku pun yang kuletakkan di sana. Pelan-pelan kuhembuskan napas agar tidak terlihat tegang. Kemudian pak guru menanyakan namaku. Setelah kujawab semua teman tertawa terbahak-bahak.
Guru yang kuidolakan ini ternyata sangat galak bukan galak tetapi sangat tegas. Ini salahku siapa suruh memandangi wajahnya. Ah.., aku ini sangat payah. Secepatnya aku keluarkan buku di dalam tasku. Pelajaran fisika pun dilanjutkan Mila memandangku heran.
"Mil, guru tadi namanya, siapanya sih? galak banget."
"Haha..., makanya jangan telat masuk! udah gitu ngelamun di kelas lagi. Namanya Pak Dika, Ti."
"Ohh...," namanya sangat keren pikirku dalam hati.
***
Seragam putih abu-abu kini sudah kukenakan, aku menatap cermin yang retak. Ini adalah cermin yang kumiliki satu-satunya. Turun-temurun kepunyaan bedak ibu sebab aku tak mampu membeli bedak yang baru yang ada cerminnya.
Aku sendiri memang tak suka pakai bedak hanya saja aku ingin seperti teman-temanku sekarang. Walau tak pakai bedak yang penting wajahku terlihat ayu. Apalagi jika ketemu guru idolaku. Inginnya tampil cantik kalau ketemu pak guru. Untung saja temanku tak ada yang tahu. Kalau ada, aku sudah ditertawakan oleh mereka.
Apakah ini yang disebut mengagumi? Atau ini hanya bumbu semangatku agar aku semangat belajar. Entahlah, yang jelas aku sangat senang jika bertemu dengan guru idolaku yaitu guru fisika yang bernama Pak Dika.
***
#PML,Sulastri
"Hay..., kamu ngapain di situ ayo cepat masuk!" kata pria yang berdiri di depan kelas.
Pria itu memakai kemeja kotak-kotak, hidungnya mancung, tubuhnya gendut tapi berotot, dan punya tahi lalat disebelah kanan hidungnya. Menurutku pria itu sangat tampan tapi sayang wajahnya terlihat sangat galak.
Sekarang aku sudah duduk dibangku paling depan bersama teman yang baru kukenal. Aku sebangku dengan Mila, dia keturunan cina. Bisa kulihat dari mata sipitnya aku yakin dia orang caenis. Tapi dia sangat ramah ketika menyilahkan aku duduk di sampingnya.
Ternyata pria yang kulihat tadi adalah guru fisika, kalau gurunya ganteng kayak gini aku pasti semangat belajar. Aku senyum-senyum sendirian menatap guru yang kuidolakan di depanku seketika itu suara gebrakan meja mengagetkanku.
"Brakk.., mana bukumu! Kenapa dari tadi belum dikeluarkan?" bentak Pak Guru.
Aku benar-benar malu ternyata dari tadi aku hanya melamun sendiri. Di atas mejaku tak ada satu buku pun yang kuletakkan di sana. Pelan-pelan kuhembuskan napas agar tidak terlihat tegang. Kemudian pak guru menanyakan namaku. Setelah kujawab semua teman tertawa terbahak-bahak.
Guru yang kuidolakan ini ternyata sangat galak bukan galak tetapi sangat tegas. Ini salahku siapa suruh memandangi wajahnya. Ah.., aku ini sangat payah. Secepatnya aku keluarkan buku di dalam tasku. Pelajaran fisika pun dilanjutkan Mila memandangku heran.
"Mil, guru tadi namanya, siapanya sih? galak banget."
"Haha..., makanya jangan telat masuk! udah gitu ngelamun di kelas lagi. Namanya Pak Dika, Ti."
"Ohh...," namanya sangat keren pikirku dalam hati.
***
Seragam putih abu-abu kini sudah kukenakan, aku menatap cermin yang retak. Ini adalah cermin yang kumiliki satu-satunya. Turun-temurun kepunyaan bedak ibu sebab aku tak mampu membeli bedak yang baru yang ada cerminnya.
Aku sendiri memang tak suka pakai bedak hanya saja aku ingin seperti teman-temanku sekarang. Walau tak pakai bedak yang penting wajahku terlihat ayu. Apalagi jika ketemu guru idolaku. Inginnya tampil cantik kalau ketemu pak guru. Untung saja temanku tak ada yang tahu. Kalau ada, aku sudah ditertawakan oleh mereka.
Apakah ini yang disebut mengagumi? Atau ini hanya bumbu semangatku agar aku semangat belajar. Entahlah, yang jelas aku sangat senang jika bertemu dengan guru idolaku yaitu guru fisika yang bernama Pak Dika.
***
#PML,Sulastri
Komentar
Posting Komentar