Langsung ke konten utama

SUKETI IS THE BEST BAB.5 Guru Idola


Lapangan basket di Sekolah SMA Pangantun Luhur ini sangat luas aku bisa bebas berlari mengelilingi lapangan saat pemanasan. Masa orientasi berjalan lancar, walau aku kesal rambutku terlihat aneh dikucir dua dengan pita berwarna merah-putih. Padahal aku lebih suka dikucir satu saja itu pasti sangat cocok diwajahku yang tirus ini.


Di sebelah kiri sekolahku ada sebuah gereja, namanya Gereja Luxas. Sekolah ini memang pemiliknya non muslim semua gurunya pun non muslim. Bisa dibilang ini sekolah khusus untuk orang non muslim. Itu tak penting bagiku, sebab bisa sekolah pun aku sangat bersyukur. Menurutku jika aku bisa lulus SMA tentu mencari pekerjaan akan sangat mudah.

"Hay..., kamu ngapain di situ ayo cepat masuk!" kata pria yang berdiri di depan kelas.

Pria itu memakai kemeja kotak-kotak, hidungnya mancung, tubuhnya gendut tapi berotot, dan punya tahi lalat disebelah kanan hidungnya. Menurutku pria itu sangat tampan tapi sayang wajahnya terlihat sangat galak.

Sekarang aku sudah duduk dibangku paling depan bersama teman yang baru kukenal. Aku sebangku dengan Mila, dia keturunan cina. Bisa kulihat dari mata sipitnya aku yakin dia orang caenis. Tapi dia sangat ramah ketika menyilahkan aku duduk di sampingnya.

Ternyata pria yang kulihat tadi adalah guru fisika, kalau gurunya ganteng kayak gini aku pasti semangat belajar. Aku senyum-senyum sendirian menatap guru yang kuidolakan di depanku seketika itu suara gebrakan meja mengagetkanku.

"Brakk.., mana bukumu! Kenapa dari tadi belum dikeluarkan?" bentak Pak Guru.

Aku benar-benar malu ternyata dari tadi aku hanya melamun sendiri. Di atas mejaku tak ada satu buku pun yang kuletakkan di sana. Pelan-pelan kuhembuskan napas agar tidak terlihat tegang. Kemudian pak guru menanyakan namaku. Setelah kujawab semua teman tertawa terbahak-bahak.

Guru yang kuidolakan ini ternyata sangat galak bukan galak tetapi sangat tegas. Ini salahku siapa suruh memandangi wajahnya. Ah.., aku ini sangat payah. Secepatnya aku keluarkan buku di dalam tasku. Pelajaran fisika pun dilanjutkan Mila memandangku heran.

"Mil, guru tadi namanya, siapanya sih? galak banget."

"Haha..., makanya jangan telat masuk! udah gitu ngelamun di kelas lagi. Namanya Pak Dika, Ti."

"Ohh...," namanya sangat keren pikirku dalam hati.
***
Seragam putih abu-abu kini sudah kukenakan, aku menatap cermin yang retak. Ini adalah cermin yang kumiliki satu-satunya. Turun-temurun kepunyaan bedak ibu sebab aku tak mampu membeli bedak yang baru yang ada cerminnya.

Aku sendiri memang tak suka pakai bedak hanya saja aku ingin seperti teman-temanku sekarang. Walau tak pakai bedak yang penting wajahku terlihat ayu. Apalagi jika ketemu guru idolaku. Inginnya tampil cantik kalau ketemu pak guru. Untung saja temanku tak ada yang tahu. Kalau ada, aku sudah ditertawakan oleh mereka.

Apakah ini yang disebut mengagumi? Atau ini hanya bumbu semangatku agar aku semangat belajar. Entahlah, yang jelas aku sangat senang jika bertemu dengan guru idolaku yaitu guru fisika yang bernama Pak Dika.
***
#PML,Sulastri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....