Langsung ke konten utama

SUKETI IS THE BEST Bab 1 Aku Benci Namaku

Bab.
Aku Benci Namaku
Oleh: Sulastri

"Myname is Suketi. There are... I'm is..."

Gadis remaja itu kemudian diam tak melanjutkan ucapannya, karena seluruh temannya menertawakan pada saat Suketi berbicara Inggris. Suketi mengerutkan dahi, memalukan. Keluhnya dalam hati. Aku lebih baik disuruh bicara bahasa jawa dari pada harus berbicara inggris yang susah setengah mati.
"Ah..Mengapa harus ada pelajaran bahasa inggris di Sekolahnya?" Gerutunya sebal.
Belum lagi ejekan dari teman. Menertawakan namanya. Suketi, Suket yang berarti rumput dan diberi imbuhan -i dibelakangnya. Bukankah rumput adalah tanaman liar yang dicabut kemudian dibuang. Aku tak ingin menjadi rumput liar. Andai saja aku bisa mengganti namaku Bintang yang selalu memberi cahaya di waktu malam.
***
Aku menjalani hari-hari sendirian tanpa teman. Tapi lebih baik seperti ini karena temanku datang kalau ada maunya saja. Seperti meminjan buku tugas rumah atau menyontek sewaktu ulangan. Setelah itu dicampakan. Yang jelas manusia memang terlahir sendirian mati pun akan sendirian.
***
Suketi adalah murid teladan di Sekolah. Ia sangat aktif dikegiatan Osis dan Suketi menjadi seksi kepribadian. Ia juga selalu mengikuti lomba mengarang puisi dan membaca puisi. Hingga namanya kini menjadi terkenal ketika Ia menjadi juara di Sekolahan.
Sekarang ia bukan Suketi yang dulu. Yang selalu direndahkan dan dibully teman-temannya. Sekarang banyak teman yang mau menemaninya. Ia bersyukur dengan keadaan yang sekarang. Tidak lagi sendiri, tiada lagi kesedihan yang ada hanya kebahagiaan.
***
PML, 14-03-2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....