Langsung ke konten utama

Cerpen, Tirta

 
Gambar: Andromeda07.blogspot.com


"Aku akan membunuhmu!" bentak gadis di hadapannya.
Gadis itu menodongkan pisau pemotong sayur yang ujungnya sangat tajam kepada Tirta. Tatapan matanya menaruh kebencian. Dia mengenakan baju lengan panjang berbahan rajutan dan celana lejing warna hitam. Tirta sama sekali tidak mengenali gadis ini, bahkan tak pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Sebersit pertanyaan dimemori pikiran laki-laki ini pun semakin menggumpal. Apa alasan yang membuat gadis itu membencinya?

"Anda salah orang nyonya. Tolong turunkan pisau itu!" pinta Tirta.
Tangisan gadis semakin pecah, suaranya hampir terdengar ke seluruh ruangan.

"Andai saja waktu itu aku tak pernah bertemu denganmu, mungkin cinta ini tak semakin dalam pun menyiksa. Ini salahmu. Kau telah meninggalkanku Tirta. Aku perempuan di masa depanmu. Tapi, sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu sekarang," ungkap gadis itu.

Gadis ini sungguh mengenali Tirta, ruangan Kafe Club menjadi senyap. Para pengunjung memperhatikan mereka berdua, Tirta pun semakin bingung dengan penjelasan perempuan tersebut.
**
Di Lorong bawah jembatan rel kereta, terlihat kedua pria dan wanita sedang bertengkar. Jari telunjuk pria tersebut menunjuk-nunjuk muka wanita itu. Tas dorong milik wanita tersebut di bantingnya. Perempuan itu bergeming, hanya isak tangis yang terdengar.
Tirta datang dari arah berlawanan, melihat laki-laki itu akan menampar perempuannya. Dia pun bertindak kemudian menghampiri mereka berdua. Tirta mendorong laki-laki tersebut untuk menjauhkan tangannya. Menghalangi dengan tubuhnya yang kini berada di tengah-tengah diantara  mereka. Lalu laki-laki itu pun pergi meninggalkan Tirta dan juga wanita yang bersamanya.
"Anda baik-baik saja kan?" tanya Tirta
"Hemm..iyah enggak papa kok, dia memang begitu. Makasih yah," ucapnya.

"Anda mau kemana? Biar saya antar sampai rumah."
"Tidak jauh dari sini kok, sekali lagi makasih Mas."
Tirta mengantarkan wanita itu sampai ke rumahnya. Supaya laki-laki tadi tidak  menyakiti wanita ini. Setelah sampai tepat di depan pintu gerbang rumahnya, Tirta menanyakan nama wanita itu.
"Saya Vira," jawabnya.
**
Sebulan setelah Tirta menyelamatkan Vira, mereka pun semakin dekat. Setiap malam minggu Vira sering jalan berdua dengannya, hingga tumbuhlah benih-benih cinta dihati Vira. Mantan kekasih Vira yang suka memukulinya tidak lagi menghubunginya. Itu semua karena Tirta.
Tirta seperti malaikat penolong baginya, dia juga sangat menghormati wanita. Bagaikan pelangi yang datang setelah hujan, dan seperti tangisan Vira yang terhenti setelah Tirta datang. Seperti itulah Tirta, akan selalu memberi warna untuk Vira.
**
"Kau pergi, kau pergi dengan meninggalkan surat. Demi cita-citamu. Kau melupakan aku, Tirta. Kau jahat Tirta, jahat!" kata Vira
"Maafin aku Vir jika di masa depan aku melukaimu, tapi sekarang aku tak pernah mengerti. Aku belum melakukannya."
**
Pertengahan bulan desember, Vira berharap bisa merayakan tahun baru dengan Tirta. Hingga burung datang membawa kabar lewat surat yang tergeletak di depan pintu rumah Vira.
Wanita itu duduk di kursi tamu, lalu segera membuka surat itu.

'To: Perempuanku

'Akulah lelaki yang takut mengatakan cinta, mengatakan kebenaran isi hati karena takut menyakiti...
Jika kau kini membaca suratku maka aku telah pergi...
Pergi tak kembali sebab ada sesuatu yang harus kuselesaikan untuk sekolah di luar negeri.
Tapi, kau akan tetap selalu di hati, selamanya...
.
'From: Tirta

Setelah membaca surat itu Vira menyobek surat tersebut, ini sungguh tak adil baginya. Kenapa harus ada pertemuan jika akan ada perpisahan? Vira berdoa agar dia bisa menghentikan pertemuannya dengan Tirta. Agar tidak merasakan sakit yang teramat sakit. Dengan cara membunuh Tirta.
Hingga masa itu benar-benar datang, Vira datang ke masa sebelum Tirta bertemu dengannya.
Wanita itu berdiri di hadapan Tirta. Selangkah demi langkah, mendekati Tirta. Vira dendam dengannya. Saat ujung pisau tersebut akan mengarah ke perut Tirta.
Dia mencoba menghindar, gerakan tangan wanita itu sangat gesit. Seperti pembunuh yang terlatih. Sedangkan dirinya masih mencoba untuk menghindari.

"Dek..dek," detak jantung Tirta semakin kencang dan dia pun terbangun dari bawah sadar. Ternyata itu hanya mimpi belaka.
***
PML, 09/10/16

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....