Pagi di ujung jalan tak bertepi. Matahari menampakkan wajahnya malu-malu. Sinar suryanya memantul diujung aspal, tepat dimana gadis remaja itu berjalan.
Suketi melangkah ke Sekolah dengan jalan kaki. Ia kesal karena bangun kesiangan tak sempat sarapan.
Tepat didepan gerbang sekolah. Suketi tak menyadari kaos kakinya panjang, pendek sebelah. Dalam keadaan gugup Suketi suka pelupa. Bahkan dia lupa tak mengenakan topi upacara. Suketi berlari masuk. Ia benar-benar terlambat masuk. Temannya sudah membentuk barisan diantara murid yang lainnya.
Salah satu teman melirik dengan senyum yang ditahan. Entah, mereka tersenyum karena apa? Suketi tak peduli.
Kini Suketi harus rela berdiri sendiri dibarisan timur menatap matahari. Gadis remaja berpakaian putih biru itu. Harus melawan lelah ditambah hukuman, karena ia tidak melengkapi seragam pada saat upacara.
Tubuhnya yang mungil, dengan napas tersendat-sendat. Kakinya mulai terhuyung tak kuat menahan panas matahari.
Kepalanya semakin berat, pandangan mata gadis itu perlahan terampas pekat lalu ambruk.
***
Suketi tak menyadari sekarang ia berada di ruang UKS. Bersama pria yang menolongnya. Dilihat senyum merona dari wajah pria itu. Membuat jantung Suketi berdegup manahan takut.
Ia mencoba mengingat gambaran wajahnya. Suketi baru sadar bahwa ia mengenalnya. Pria itu kakak kelas yang menjabat sebagai Wakil OSIS.
Tapi Suketi lupa namanya.
"Eti gimana? Udah mendingan kan," sosok pria itu menanyakan keadaan Suketi.
"Sudah Kak, alhamdulilah. Makasih K."
"Iya Syukurlah. Ini ada roti untuk sarapan kamu dimakan yah. Aku mau ke kelas dulu," dia pun meninggalkan Suketi di UKS.
Suketi melihat sepotong roti dengan segelas air putih hangat di atas meja. Ia melahap roti dan menghabiskan segelas air putih sampai tak tersisa. Tubuhnya merasa pulih kembali. Ia lapar karena belum sarapan pagi.
Setelah itu dia masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran yang tertinggal beberapa menit yang lalu. Sebelah bangku Suketi kosong. Suyati tak masuk Sekolah. Ia bertanya-tanya dalam hati berharap sahabatnya dalam keadaan baik.
Tepat istirahat. Tak ada seorang teman pun, yang mau menemaninya. Semua laki-laki teman sekelasnya, menutup hidung ketika Suketi lewat disebelahnya.
Suketi merasa sangat sedih. Ia seperti sampah yang terbuang diantara kerumunan teman-temannya.
Dia menghabiskan waktu di perpustakaan sendirian. Menahan tangis yang membendung hatinya yang sakit hati karena dibully. Bahkan ia tak mengingat apapun yang dibacanya. Pikirannya kacau. Sampai buku yang tadi ia pegang terlepas dari tangannya. Jatuh kebawah jendela tepat ia berdiri. Sontak Suketi tersadar dari lamunannya.
Aduh gusti, bagaimana ini? Masa aku harus keluar jendela mengambil buku itu yang terjatuh. Bagaimana mungkin bisa? Ia kalut, memprotes kebodohannya itu.
Dibalik kekalutan itu, sosok pria yang tadi menolongnya datang tepat waktu.
Ia turun dan mengambil buku itu kemudian diberikan ke Suketi. Suketi pun menanyakan namanya.
"Sekali lagi makasih yah k. Kak, boleh tahu namanya enggak?"
Sambil tersenyum pria itu pun menjawab, "Aku Dio, kirain kamu sudah tahu namaku."
Dio tertawa kecil. Suketi pun ikut tertawa melupakan kesedihan yang dialaminya.
***
Pemalang,#Sulastri
Komentar
Posting Komentar