Langsung ke konten utama

SUKETI IS THE BEST Bab 4 Langkah Awal



Bab 4 Langkah Awal
.
Masa kelulusan SMP Suketi tampil membacakan puisi perpisahan. Dio mantan kakak kelasnya dulu datang menghadiri acara perpisahan di sekolahnya. Pria itu menatap Suketi lamat-lamat. Dua tahun menjalin pertemanan dengan Dio, kenangan bersamanya penuh dengan cerita bahagia.

Aku menuruni tangga setelah membacakan puisi di Panggung Sekolah. Dia berjalan menuju ke arahku kemudian menjabat tangan lalu menanyakan kabar. Rambut keriting Dio mulai terlihat tebal dan hitam. Mungkin dia lupa memotong rambutnya. Lelaki itu mengenakan kacamata, cocok sekali sebab hidungnya mancung tapi sayang tingginya kurang.

"Suaramu masih tetap cempreng dan merdu, kamu habis makan sambal yah," canda Dio kepadaku. Aku mencubit pinggangnya tapi dia langsung menghindar.

"Tapi suaraku ngangenin kan," kataku sambil mengedipkan mata kepadanya.

Dia malah tertawa menunjukkan gigi tarinngnya yang runcing di sebelah kanan. Dio manis saat tertawa ditambah lesung pipitnya yang mirip dengan aktor pemeran Harry Potter yaitu Daniel Reaclife. Tetap saja kulitnya kecoklatan tidak seputih yang kubayangkan.

Kemudian kami menuju kantin sekolah, membeli bakso seharga seribu. Aku suka bakso kosongan tanpa mie kuning atau tambahan mie-hun. Dia menceritakan sekolah SMA-nya. Lalu menanyakan aku akan melanjutkan sekolah di mana. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

"Aku enggak tahu Kak, apakah aku masih bisa sekolah lagi atau tidak? Yang jelas aku hanya mengikuti jejak langkahku."

"Kau sama saja tidak memiliki tujuan, Ti. Kau pintar dan menarik. Kamu pasti punya langkah awal tujuan hidupmu Ti. Yang penting, Semangat!"

"Yah.., itu pasti Kak."

Semangkok bakso telah kuhabiskan tanpa tersisa sedikitpun. Rasanya sangat sedab makan berdua dengan Dio. Dia masih sama, sikapnya manis padaku tak berubah sedikitpun. Walaupun setahun tak bertemu kami masih saja suka bercanda saat menghabiskan waktu bersama. Kulihat jam tangan dipergelangan tangannya. Sepertinya dia memakai jam tangan baru. Aku ingin sekali menyindir tapi tiba-tiba Suyati dengan Niko datang menghampiri kami.

Suyati duduk di samping kiriku sedangkan Niko di samping kanan Dio. Kami duduk saling berhadapan. Suyati terlihat senyum-senyum sendirian. Lenganku menyenggolkan badan Suyati sambil berdehem. Lalu Niko dan Dio mengambilkan segelas air putih untukku secara berbarengan.

"Ti, kamu tersedak. ini cepat minum," kata Dio sedang Niko menyelutuk, "Ini minum." karena minuman Niko yang lebih dekat, kuraih minuman itu dan sebenarnya aku tak sungguh-sungguh tersedak. Aku melihat kekecewaan dimata Dio.

"Oh, jadi Kak Niko selama ini. Ah sudahlah...," kata Suyati kemudian berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan kami bertiga.

Suasana kantin berubah menjadi sepi, kami bertiga diam sedang mereka menatapku dengan tanda tanya. Aku tak mengerti dengan tatapan mereka. Yang kupikirkan saat ini, apa yang harus kulakukan. Mengejar Suyati atau tetap duduk diantara mereka.
***
#PML_Sulastri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....