Langsung ke konten utama

🍁Hambatan Pernikahan

Pernikahan hal yang paling diinginkan dalam suatu hubungan. Terlebih oleh wanita. Dengan begitu ia yakin, akan keseriusan pasangannya. 
Namun, demikian bagi Sakinah. Keputusan Bang Seto begitu mengejutkan. Tentang apa? 
"Jika bukan minggu depan, akad nikah esok pun jadi."
"Kamu yakin, Bang. Ini tidak terlalu cepat."
Sakinah tahu, Bang Seto telah mengambil keputusan yang tepat. Pernikahan ini harus sesuai rencana awal. Pikirannya menerawang ke mana-mana. 
Saat panggilan telepon Bang Seto terputus. Entah, mengapa semua ini harus terjadi? Gadis manis dengan gincu tipis, tak dapat membendung air matanya. Nyaris meluncur deras. Bola matanya memerah. 
 
Sebuah pesan masuk, dari Sang Lebe. 
"Nanti besok dipersiapkan, ketemu saya di Kantor dengan calon suami, wali nikah dan dua orang saksi."
Menyadarkan Sakinah akan hambatan pernikahannya dengan Bang Seto. Betul, sekian lama ia menunggu. Hari H. Sudah tiga bulan yang lalu menyiapkan segalanya. Tapi, ada saja masalah yang datang. 
"Bapak, tolong datang di acara pernikahan Sakinah," pintanya. 
Ayahnya yang sudah lama menghilang, dicari kembali. Cuma untuk menjadi wali. Bagi Sakinah, Ayahnya telah melupakan tanggung jawab sebagai seorang Bapak. Dulu, sekarang masihkah ia bersedia. Walau hanya tanda tangan di atas kertas untuk sebentar saja. 
Sekiranya Ayahnya akan setuju. Malam berikutnya pikiran itu bisa berubah,  karena dihasut oleh Ibu tiri Sakinah. Bagaimana mungkin? 
Namun, Bang Seto tidak kehabisan akal. Pukul 23.00 malam, Bang Seto mengajak Sakinah meluncur ke rumah ayahnya. Bukan, lebih tepatnya kediaman ibu tiri. 
Rumah sederhana, dengan pelataran yang ditumbuhi pohon jambu. Dan sebaris pagar kayu, Sakinah menggeret pintu ke samping. Kemudian Bang Seto mengetuk pintu rumahnya. 
Terbuka oleh perempuan dengan tinggi semampai. Rambut keritingnya terikat oleh pita tali. Menyuruh kami masuk ke dalam. 
Ayah Sakinah masih duduk di ruang TV yang dibatasi oleh lemari. Punggung belakangnya masih tampak di ruang tamu. Melihat kami datang ia buru-buru mendekat. Duduk dan berjabat tangan dengan kami. 
"Maaf, Pak. Malam-malam mengganggu. Ini penting. Demi kelancaran pernikahan. Besok bapak, mau kan ke Uk. Nanti saya yang jemput Bapak dari sini," ucap Bang Seto. 
Ayah Sakinah tersenyum. Sakinah tidak menyangka. Senyumnya merekah. Tampak bahagia. Ibu tiri Sakinah bersikap manis kepada Bang Seto. Namun, dengan Sakinah merasa canggung. 
Sampai Sakinah berpikir, seolah-olah ia sedang berpura-pura dihadapan Bang Seto. Atau ia merencanakan sesuatu untuk menggagalkan pernikahannya. Entahlah.. 
Betul, kata orang. Setiap langkah ke jenjang pelaminan tentu ada hambatan yang melintang. Tapi, jika kita sabar. Tentu, kita bisa melewatinya. 
***
Pemalang, 7 Februari 2021 
x
x
x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....