Pernikahan hal yang paling diinginkan dalam suatu hubungan. Terlebih oleh wanita. Dengan begitu ia yakin, akan keseriusan pasangannya.
Namun, demikian bagi Sakinah. Keputusan Bang Seto begitu mengejutkan. Tentang apa?
"Jika bukan minggu depan, akad nikah esok pun jadi."
"Kamu yakin, Bang. Ini tidak terlalu cepat."
Sakinah tahu, Bang Seto telah mengambil keputusan yang tepat. Pernikahan ini harus sesuai rencana awal. Pikirannya menerawang ke mana-mana.
Saat panggilan telepon Bang Seto terputus. Entah, mengapa semua ini harus terjadi? Gadis manis dengan gincu tipis, tak dapat membendung air matanya. Nyaris meluncur deras. Bola matanya memerah.
Sebuah pesan masuk, dari Sang Lebe.
"Nanti besok dipersiapkan, ketemu saya di Kantor dengan calon suami, wali nikah dan dua orang saksi."
Menyadarkan Sakinah akan hambatan pernikahannya dengan Bang Seto. Betul, sekian lama ia menunggu. Hari H. Sudah tiga bulan yang lalu menyiapkan segalanya. Tapi, ada saja masalah yang datang.
"Bapak, tolong datang di acara pernikahan Sakinah," pintanya.
Ayahnya yang sudah lama menghilang, dicari kembali. Cuma untuk menjadi wali. Bagi Sakinah, Ayahnya telah melupakan tanggung jawab sebagai seorang Bapak. Dulu, sekarang masihkah ia bersedia. Walau hanya tanda tangan di atas kertas untuk sebentar saja.
Sekiranya Ayahnya akan setuju. Malam berikutnya pikiran itu bisa berubah, karena dihasut oleh Ibu tiri Sakinah. Bagaimana mungkin?
Namun, Bang Seto tidak kehabisan akal. Pukul 23.00 malam, Bang Seto mengajak Sakinah meluncur ke rumah ayahnya. Bukan, lebih tepatnya kediaman ibu tiri.
Rumah sederhana, dengan pelataran yang ditumbuhi pohon jambu. Dan sebaris pagar kayu, Sakinah menggeret pintu ke samping. Kemudian Bang Seto mengetuk pintu rumahnya.
Terbuka oleh perempuan dengan tinggi semampai. Rambut keritingnya terikat oleh pita tali. Menyuruh kami masuk ke dalam.
Ayah Sakinah masih duduk di ruang TV yang dibatasi oleh lemari. Punggung belakangnya masih tampak di ruang tamu. Melihat kami datang ia buru-buru mendekat. Duduk dan berjabat tangan dengan kami.
"Maaf, Pak. Malam-malam mengganggu. Ini penting. Demi kelancaran pernikahan. Besok bapak, mau kan ke Uk. Nanti saya yang jemput Bapak dari sini," ucap Bang Seto.
Ayah Sakinah tersenyum. Sakinah tidak menyangka. Senyumnya merekah. Tampak bahagia. Ibu tiri Sakinah bersikap manis kepada Bang Seto. Namun, dengan Sakinah merasa canggung.
Sampai Sakinah berpikir, seolah-olah ia sedang berpura-pura dihadapan Bang Seto. Atau ia merencanakan sesuatu untuk menggagalkan pernikahannya. Entahlah..
Betul, kata orang. Setiap langkah ke jenjang pelaminan tentu ada hambatan yang melintang. Tapi, jika kita sabar. Tentu, kita bisa melewatinya.
***
Pemalang, 7 Februari 2021
x
x
x
Namun, demikian bagi Sakinah. Keputusan Bang Seto begitu mengejutkan. Tentang apa?
"Jika bukan minggu depan, akad nikah esok pun jadi."
"Kamu yakin, Bang. Ini tidak terlalu cepat."
Sakinah tahu, Bang Seto telah mengambil keputusan yang tepat. Pernikahan ini harus sesuai rencana awal. Pikirannya menerawang ke mana-mana.
Saat panggilan telepon Bang Seto terputus. Entah, mengapa semua ini harus terjadi? Gadis manis dengan gincu tipis, tak dapat membendung air matanya. Nyaris meluncur deras. Bola matanya memerah.
Sebuah pesan masuk, dari Sang Lebe.
"Nanti besok dipersiapkan, ketemu saya di Kantor dengan calon suami, wali nikah dan dua orang saksi."
Menyadarkan Sakinah akan hambatan pernikahannya dengan Bang Seto. Betul, sekian lama ia menunggu. Hari H. Sudah tiga bulan yang lalu menyiapkan segalanya. Tapi, ada saja masalah yang datang.
"Bapak, tolong datang di acara pernikahan Sakinah," pintanya.
Ayahnya yang sudah lama menghilang, dicari kembali. Cuma untuk menjadi wali. Bagi Sakinah, Ayahnya telah melupakan tanggung jawab sebagai seorang Bapak. Dulu, sekarang masihkah ia bersedia. Walau hanya tanda tangan di atas kertas untuk sebentar saja.
Sekiranya Ayahnya akan setuju. Malam berikutnya pikiran itu bisa berubah, karena dihasut oleh Ibu tiri Sakinah. Bagaimana mungkin?
Namun, Bang Seto tidak kehabisan akal. Pukul 23.00 malam, Bang Seto mengajak Sakinah meluncur ke rumah ayahnya. Bukan, lebih tepatnya kediaman ibu tiri.
Rumah sederhana, dengan pelataran yang ditumbuhi pohon jambu. Dan sebaris pagar kayu, Sakinah menggeret pintu ke samping. Kemudian Bang Seto mengetuk pintu rumahnya.
Terbuka oleh perempuan dengan tinggi semampai. Rambut keritingnya terikat oleh pita tali. Menyuruh kami masuk ke dalam.
Ayah Sakinah masih duduk di ruang TV yang dibatasi oleh lemari. Punggung belakangnya masih tampak di ruang tamu. Melihat kami datang ia buru-buru mendekat. Duduk dan berjabat tangan dengan kami.
"Maaf, Pak. Malam-malam mengganggu. Ini penting. Demi kelancaran pernikahan. Besok bapak, mau kan ke Uk. Nanti saya yang jemput Bapak dari sini," ucap Bang Seto.
Ayah Sakinah tersenyum. Sakinah tidak menyangka. Senyumnya merekah. Tampak bahagia. Ibu tiri Sakinah bersikap manis kepada Bang Seto. Namun, dengan Sakinah merasa canggung.
Sampai Sakinah berpikir, seolah-olah ia sedang berpura-pura dihadapan Bang Seto. Atau ia merencanakan sesuatu untuk menggagalkan pernikahannya. Entahlah..
Betul, kata orang. Setiap langkah ke jenjang pelaminan tentu ada hambatan yang melintang. Tapi, jika kita sabar. Tentu, kita bisa melewatinya.
***
Pemalang, 7 Februari 2021
x
x
x
Komentar
Posting Komentar