Cerita Tiga Sekawan K3
Oleh: Sulastri
-
Kami biasa bersama sejak kelas satu SMP sampai lulus SMA
pun masih tetap bersama. Teman-teman biasa menyebut kami, tiga sekawan
yang setia. Yang kami beri nama K3, Kucluk, Keli, dan Koki ini bukan
nama asli itu panggilan keakrapan kami.
Kucluk nama aslinya Agil Permana, jauhkan dengan nama
Kucluk untuknya. Awal nama panggilan itu bermula karena pas lagi guyunan
bareng teman, kuku dia lepas.
“lah.. kukuku ucul, cluk eh clek,” kata Kucluk sambil motong kukunya dengan penjepit kuku.
Keli dengan Koki ketawa kegirangan mereka berkata,
“Cluk.. dasar kucluk,” mulailah mereka memanggil Agil dengan sebutan Kucluk.
Sedangkan Keli, alasan mengapa ia dipanggil Keli? Dia
dulu pernah loncat di kali pada waktu hujan-hujanan bareng Kucluk dan
koki, kecebur nyemplung ke kali lalu keli. Nama asli Keli itu Bayu
Guntur . R, abaikan saja nama aslinya terlalu bagus nama itu untuknya.
Lain lagi dengan Koki yang nama aslinya Lukman Hakim orang
tuanya pengen anaknya jadi hakim dia malah suka masak di dapur mirip
perempuan. Kalau lagi ngumpul ada aja maunya.
“Mau enggak bakar ikan di dekat lautan,” kata Koki . Kucluk
dengan Keli Cuma bisa geleng-geleng kepala. Besoknya lagi koki ngajakin
masak nasi goreng yang kata ia masakannya mirip koki terkenal.
“Walah..koki-koki ke sini niatnya main malah diajakin
masak,” keluh Kucluk bukan main. Mereka ini punya nama yang bagus
ujung-ujungnya di panggil K3, kucluk, keli dan koki. Hehe... maklum biar
akrab plus kompak gitu katanya.
**
Sewaktu lulus SMA kami bertiga mengadakan liburan ke Semarang. Memesan tiket seminggu sebelumnya.
-
Koki menunggu sendirian di Stasiun Pemalang. Menunggu Kucluk dan Keli lama sekali masih belum juga kelihatan. Sepasang mata Koki memandang sekitar jalan. Mencari batang hidung temannya. Tetap saja belum ia temukan.
.
Di lain tempat Kuncluk dan Keli memburu waktu dengan jalan kaki. Jangan tanya motornya kemana! Memang niatnya motor mereka tidak di bawa biar jalan kaki menuju ke stasiun. Tujuannya sih pengen menikmati pagi buta, gara-gara keli yang bangunnya kesiangan niat itu jadi angan-angan yang enggak kesampaian.
Kucluk jadi kesal sama si Keli sudah jalannya kaya kura-kura lambat sekali. Bangun pagi juga susah coba kalau si Keli bisa bangun pagi pastilah kita sudah sampai di stasiun. Gerutu Kucluk di dalam hati.
"Cluk nunggu napa? Jalanmu macam orang mau nagih hutang saja," kata Keli.
Kucluk masih saja jalan cepat di depan Keli pura-pura tak mendengar ucapannya. Keli mengambil langkah seribu untuk bisa memburu Kucluk sebelum ketinggalan.
"Kel.., bok cepet napa? Tahu tidak ini jam berapa? Kamu kan tahu kereta berangkat pukul 07.00 pagi. Ini saja sudah pukul 06.45 pagi sampai di stasiun jam berapa coba? Yang ada kita ketinggalan kereta," terang Kucluk kepada Keli yang sekarang sudah berada di sampingnya.
"Yah aku tahu, Cluk gimana kalau kita naik becak,"
"Enggak tar rugi, mending duitnya buat jajan. Di Semarang nanti kan mau beli oleh-oleh buat ibu. Yang ada duitnya enggak nyukup."
"Ohw..ya wis ra papa, eits.. Aku punya akal nih," Ucap Keli yang tiba-tiba menghentikan kakek tua yang memakai sepeda ontel. Ia membujuk kakek tua itu berharap mau mengantarkan mereka ke stasiun.
"Nduk, ya sudah naik tak antar sampai sana," sambut Kakek tua dengan ramah.
Keli loncat-loncat kegirangan mirip anak-anak yang baru dibelikan mainan. Kucluk dengan Keli naik ke boncengan kakek tua itu pun meluncur ke tempat tujuan.
.
Pundak Koki ada yang menepuk dari belakang. Ia menengok ternyata Keli yang menepuk bersama Kucluk.
Sewaktu lulus SMA kami bertiga mengadakan liburan ke Semarang. Memesan tiket seminggu sebelumnya.
-
Koki menunggu sendirian di Stasiun Pemalang. Menunggu Kucluk dan Keli lama sekali masih belum juga kelihatan. Sepasang mata Koki memandang sekitar jalan. Mencari batang hidung temannya. Tetap saja belum ia temukan.
.
Di lain tempat Kuncluk dan Keli memburu waktu dengan jalan kaki. Jangan tanya motornya kemana! Memang niatnya motor mereka tidak di bawa biar jalan kaki menuju ke stasiun. Tujuannya sih pengen menikmati pagi buta, gara-gara keli yang bangunnya kesiangan niat itu jadi angan-angan yang enggak kesampaian.
Kucluk jadi kesal sama si Keli sudah jalannya kaya kura-kura lambat sekali. Bangun pagi juga susah coba kalau si Keli bisa bangun pagi pastilah kita sudah sampai di stasiun. Gerutu Kucluk di dalam hati.
"Cluk nunggu napa? Jalanmu macam orang mau nagih hutang saja," kata Keli.
Kucluk masih saja jalan cepat di depan Keli pura-pura tak mendengar ucapannya. Keli mengambil langkah seribu untuk bisa memburu Kucluk sebelum ketinggalan.
"Kel.., bok cepet napa? Tahu tidak ini jam berapa? Kamu kan tahu kereta berangkat pukul 07.00 pagi. Ini saja sudah pukul 06.45 pagi sampai di stasiun jam berapa coba? Yang ada kita ketinggalan kereta," terang Kucluk kepada Keli yang sekarang sudah berada di sampingnya.
"Yah aku tahu, Cluk gimana kalau kita naik becak,"
"Enggak tar rugi, mending duitnya buat jajan. Di Semarang nanti kan mau beli oleh-oleh buat ibu. Yang ada duitnya enggak nyukup."
"Ohw..ya wis ra papa, eits.. Aku punya akal nih," Ucap Keli yang tiba-tiba menghentikan kakek tua yang memakai sepeda ontel. Ia membujuk kakek tua itu berharap mau mengantarkan mereka ke stasiun.
"Nduk, ya sudah naik tak antar sampai sana," sambut Kakek tua dengan ramah.
Keli loncat-loncat kegirangan mirip anak-anak yang baru dibelikan mainan. Kucluk dengan Keli naik ke boncengan kakek tua itu pun meluncur ke tempat tujuan.
.
Pundak Koki ada yang menepuk dari belakang. Ia menengok ternyata Keli yang menepuk bersama Kucluk.
"Lah kok dari pintu samping, bukan pintu depan. Kalian di antar siapa? lama sekali sih," tegas Koki.
"Tuh..," Keli dan Kucluk menunjuk Kakek tua yang sudah pergi tak jauh dari mereka.
"Hah.., kalian bontong bertiga naik sepeda itu," kata Koki tak percaya.
"Ya..iyalah, masih untung kakek tua itu mau mengantar kalau enggak kita..," suara Keli terhenti melihat kereta berbunyi tanda kereta mau pergi berangkat lagi. Mereka bertiga masuk ke dalam kereta.
Kucluk mengelus dada sambil berdoa. Alhamdulilah sampai di stasiun tepat waktu kalau tidak tiket yang di pesan seminggu yang lalu sia-sia tak terpakai, kan mubazir.
Tuhan memang selalu punya cerita yang enggak mungkin bisa Kucluk tebak.
Matanya memandang jalan dari jendela kaca kereta dan mengucap syukur padaNya.
"Tuh..," Keli dan Kucluk menunjuk Kakek tua yang sudah pergi tak jauh dari mereka.
"Hah.., kalian bontong bertiga naik sepeda itu," kata Koki tak percaya.
"Ya..iyalah, masih untung kakek tua itu mau mengantar kalau enggak kita..," suara Keli terhenti melihat kereta berbunyi tanda kereta mau pergi berangkat lagi. Mereka bertiga masuk ke dalam kereta.
Kucluk mengelus dada sambil berdoa. Alhamdulilah sampai di stasiun tepat waktu kalau tidak tiket yang di pesan seminggu yang lalu sia-sia tak terpakai, kan mubazir.
Tuhan memang selalu punya cerita yang enggak mungkin bisa Kucluk tebak.
Matanya memandang jalan dari jendela kaca kereta dan mengucap syukur padaNya.
Pemalang, 30.04.16
***
***
#Cerpen_Sulastri
Komentar
Posting Komentar