Langsung ke konten utama

Diary: Proses kedewasaan


Bagaimana proses kedewasaan? Apakah kedewasaan kita dinilai dari umur? Cara kita mengatasi masalah, dengan marahkah, mengeluh, menghindar tak memiliki tanggung jawab, atau sabar untuk menghadapinya. Entahlah.. semua orang memiliki cara sendiri untuk mengatasi masalahnya.

 Dan dibalik masalah tersebut terdapat hikmahnya. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti akan hikmah dari masalahnya.

Proses kedewasaan adalah proses kita dalam berpikir positif dalam mengambil keputusan dengan bijak. Yah.. dengan cara kita berpikir positif kita tidak akan terpengaruh omongan orang, dan memiliki kometmin untuk hidup kita. Tak perlu ragu mengambil keputusan lewat hati kita. Karena mengambil keputusan lewat hati biasanya berbuah kebaikan disitu terdapat campur tangan Tuhan.

Kedewasaan tidak dinilai dari umur kita. Ada kok orang yang berumur lebih muda malah punya pemikiran yang dewasa. Semua itu tergantung pergaulan kita. Jika kita bergaul dengan orang dewasa tentu cara berpikir kita dewasa begitu pun sebaliknya.

            Cara mengatasi masalah bukan dengan kita marah-marah atau mengeluh dengan masalah tersebut. Namun, kita cobalah bersabar bagaimana mengatasinya. Tanpa menyalahkan orang lain nilailah diri kita sendiri sebelum menyalahkan. Tidak lari dari masalah itu menandakan kita belum dikatakan dewasa. Juga tidak bertanggung jawab dengan masalahnya malah membawa masalah baru dalam kehidupannya.

            Kalau kita bisa bersikap dewasa seperti keterangan yang saya sampaikan diatas, tentu waktu yang akan menjawab hikmah dari sebuah masalah yang telah kita hadapi. Yah..karena Tuhan Sayang dengan orang-orang yang bisa bertanggung jawab dalam masalahnya. Sebagai hadiahnya kita diberi kejutan dari masalah tersebut.

Jangan pernah takut! Tuhan berada dalam diri kita resapi dan jadilah orang-orang yang penyabar dan dekat kepada Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....