Langsung ke konten utama

Bukan Dia, Tapi Bukan Aku


Terkadang cinta memberi pilihan padamu, apakah harus bertahan atau mempertahankan? jika cinta telah membuatmu merasa jenuh dengan sikapnya, sebisa mungkin kau mengatakan kesungguhan yang sebenar-benarnya. Jika tidak kau sendiri yang akan jatuh ke dalam.
Seperti Nia yang masih menjalin hubungan jarak jauh atau bahasa gaulnya LDR. selalu ada keterbukaan, sedangkan pasangannya masih meragukan kesetiaan gadis itu.

"Aku benci dia yang terlalu egois," ungkap Nia
"Lalu," tanya sahabatnya

"Tapi, aku juga sulit untuk meninggalkan. kau punya cara agar dia tidak seperti itu."

Sahabatnya hanya diam, menatap Nia dengan penuh simpatik. Nia butuh teman, teman yang mau mendengarkan keluhannya. Yang mau mendengar ocehan cerewatnya yang kadang-kadang membosankan. Tapi, tidak bagi sahabatnya.

Mereka berdua duduk di sebuah ayunan. Sesekali sahabatnya mendorong ayunan itu, sehingga bergerak maju-mundur. Nia menyunggingkan bibirnya, sehingga deretan gigi putihnya kini terlihat. Lesung pipit kedua pipi terlihat jelas di wajahnya.

'Aku senang kau tersenyum Nia,' ucapan itu hanya terdengar dalam dirinya. Mereka menikmati siang yang menyejukkan, langit mendung tanpa hujan. Hanya ada angin datang, seolah angin bersahabat dengan mereka. Yang menikmati hari di Tempat Pemandian Di Kota Tegal.

"Pang, sepertinya kita terlalu lama di tempat ini. tempatnya pun semakin sepi," kata Nia menghamburkan lamunan Opang.

"Hmm.., kamu enggak liat di sana masih rame," Opang menunjuk ombak buatan di tempat pemandian itu.

Gadis itu tersipu malu. Lelaki yang bersamanya memandangi dengan seksama. Opang mengagumi Nia. Tertarik semenjak dulu hanya saja tiada cinta dihati gadis itu untuknya. Bukan dia yang Nia cinta. Mungkin waktu berama lama pun Opang tak bisa menggantikan nama kekasihnya di dalam hati Nia. Mungkin.
***
Top of Form
Bottom of Form

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEPOTONG ROTI

'Kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, tapi kau tidak akan merubah apapun dan membuktikan ke siapapun tentang dirimu. Sebab kau tak pernah menjadi dirimu.' Malam jumat aku masih saja menuliskan kata diselembar kertas, beban pikiran masih saja belum terlepas. Kenangan masih saja terlintas dipikiranku tentang kebersaman yang berhenti dititik kesedihan. Ini bukan kesalahanmu ataupun kesalahanku melainkan keadaan yang telah membuat masalah menjadi semakin rumit. Aku mengambil cermin yang kuletakkan di atas lemari. Lampu bolam berwarna kuning terang menjadikan wajahku dicermin terlihat kusut. "Bertambahnya usia wajahku pun tak secantik dulu," rintihku pada cermin. Ingatanku kembali pada ucapanmu yang pernah kau katakan. Aku harus menjadi perempuan yang terlihat anggun ketika bersamamu. Itu sama saja merubah penampilanku yang dulu pernah kau kagumi. Sampai detik ini aku masih menjadi diriku sendiri. Tanggal 12 pebruari silam, tepat dihari ulang ta...

PEDAGANG

Pedagang Oleh: Sulastri senja kala datang berdiri dekat trotoan yang penuh debu kendaraan sejak waktu , telah berputar ramai orang berdatangan mata memandang jelas dekat nampak potret kehidupan dijalankan menunggu senja kau berdiri tegak menanti tangan harapan ** Pemalang, 02.07.16

Cerpen: Masa Pubertas, Stop Pacaran!

          Gambar diambil dari PureKids Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Melihat perubahan anakku sekarang, setelah mengalami masa pubertas. Nia, gadis kecilku telah bertumbuh besar menjadi seorang remaja. Buah dadanya semakin menonjol, wajahnya tumbuh berjerawat. Mulai menjaga penampilan, menggunakan pembersih wajah. Lebih sering mendekam di kamarnya sepulang dari sekolah menengah pertama. Jemari ini mengetuk pelan pintu kamar, "Nia, boleh Mama masuk?" Nia membukakan pintu dengan wajah bertekuk. "Ada apa, Mah?" "Mama mau berbincang-bincang sama anak Mamah ini. Boleh 'kan?" Aku duduk di sisi ranjangnya, Nia mulai memainkan ponsel. Sebelah mata kiriku mencoba melirik ke arah layar gadgetnya, mendapati anakku tengah mengetik pesan balasan. "Ehem … " Mendengar aku berdehem, anakku menoleh. Lalu, meletakkan ponselnya. Aku segera bertanya, "Gimana sekolahnya? Apa hari ini ada tugas dari ibu guru?"  "Nggak ada, Mah....